Menjadi Pendengar Yang Baik

Ibnu Juraij menyampaikan dari Atho’:

إن الرجل ليحدِّثني بالحديث فأنصت له كأني لم أسمعه وقد سمعته قبل أن يولد

” Sesungguhnya ada seseorang yang menyampaikan sesuatu kepadaku dan aku diam menyimak seakan-akan aku belum pernah mendengarnya, padahal aku telah mendengarnya dari semenjak ia belum lahir.”

[Siyar A’lam an-Nubala’ (V/86) dan Tadzkiroh as-Sami’ wal Mutakallim hal. 15]

Menjadi pendengar yang baik memang susah-susah gampang, ia merupakan skill, seni yang tak bisa semua orang kuasai, terlebih pasangan suami istri. Komunikasi yang lancar adalah salah satu tanda kesehatan pernikahan. Ketika suami dan istri tak ada yang mau menjadi pendengar, pertanda pernikahan mereka tidak sehat. Keduanya tidak betah mendengarkan pembicaraan pasangan. Maunya bicara dan harus didengarkan, namun dirinya tidak mau mendengarkan. Sikap ini tentu sangat menjengkelkan bagi pasangan. Allah Ta’ala berikan kita satu lisan dan dua telinga, pasti bukan tanpa tujuan. Allah inginkan kita lebih banyak menyimak ketimbang bicara.

Sayang kita kerap tidak memahami tujuan ini, jadilah kita sosok yang yang ingin didengarkan dan bukan sebagai pendengar yang baik.

Saat pasangan tak mau kalah saat bicara, itu sudah masuk siaga dua. Begitu jadi pertengkaran itu siaga satu. Tapi satu pihak mulai diam dan mau menyimak, tensi ketegangan dan ancaman akan turun.

Ketrampilan mendengarkan disini maksudnya adalah menyimak dengan segenap hati dan pikiran. Ali bin Abi Thalib – radhiallau ‘anhu – berpesan;

من احسن الاستماع تعجل الانتفاع

Siapa yang paling baik dalam menyimak, niscaya paling cepat mendapatkan manfaat”

Simak baik-baik saat si dia berbicara atau mungkin marah dan kecewa. Jangan reaksi berlebihan apalagi reaksi berlebihan alias baper. Apalagi berprasangka buruk kalau si dia bermaksud ‘menyerang’ wilayah kita. Dengarkanlah baik-baik, sepenuh hati, dan penuh prasangka baik.

Untuk setiap pasangan yang merindukan keharmonisan dan kelanggengan rumah tangga harus belajar menjadi pendengar yang baik, jangan hanya ego saja yang ditinggikan. Dalam hal ini seorang ulama besar yang bernama Hasan Al Bashri rahimahullah pernah menasehati:

“Belajarlah menjadi pendengar yang baik sebagaimana engkau belajar menjadi pembicara yang baik. Dan janganlah engkau memotong pembicaraan orang lain”.

[Mawa’izh Lil Imam Hasan Al Bashri, hal.132 ]

Jika seorang suami mampu menjadi pendengar yang baik bagi istrinya, mau mendengarkan keluh kesah pasangannya, mendengarkan curhatnya tanpa menyela dan memotong pembicaraannya, istrinya pun begitu dengan kelembutan dan penuh perhatian ia mendengar nasehat tau keluh kesah suaminya, maka secara tidak langsung mereka mengajarkan kepada anak-anak seni dan adab mendengarkan orang lain berbicara, akan memudahkan orang tua berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak-anaknya. Anak-anak yang melihat orang tuanya mau menjadi pendengar yang baik, memperhatikan adab-adab dalam mendengarkan saat orang lain berbicara niscaya anak-anak pun akan mudah menerima nasehat dan arahan dari orang tuanya. Karena bagaimanapun anak-anak ingin merasa didengar dan diperhatikan ucapannya.

Orang tua seperti ini lebih baik daripada orang tua yang sibuk dan tidak memerhatikan anaknya, selalu membuang muka dan enggan mendengarkan pembicaraan si anak. Karena itu, sudah semestinya orang tua mendengarkan baik-baik bila anak sedang berbicara—terutama anak-anak yang masih kecil—dan menunjukkan perhatian kepada pembicaraan itu. Misalnya menunjukkan ekspresi terkejut, bersuara, atau memperlihatkan gerakan yang menunjukkan bahwa kita mendengarkan, memerhatikan, dan merasa takjub. Seperti mengatakan, “Bagus!” atau “Benar!”, atau berdiri spontan, atau menganggukkan kepala tanda membenarkan, atau menjawab segala pertanyaan anak, dan sebagainya.

Tindakan-tindakan semacam ini memiliki banyak dampak positif. Di antaranya adalah:

a. Mengajari anak untuk mengungkapkan pembicaraan dengan baik.

b. Membantu anak untuk berpikir sistematis.

c. Melatih anak untuk mau mendengarkan dan memahami apa yang didengarnya dari orang lain.

d. Menumbuhkan dan mengasah pribadi anak.

e. Memperkuat daya ingat dan membantu anak mengingat kembali peristiwa yang telah lampau.

f. Menambah kedekatan anak dengan orang tuanya.

Terkadang anak tidak butuh solusi yang bertele-tele dari permasalahannya, tetapi yang ia butuhkan adalah bagaimana orang tua mau memahami perasaannya, mau ikut merasakan apa yang ia rasakan entah itu senang ataupun bahagia.

Jika anak kita merasa sedih tentang sesuatu – meskipun itu sepele – maka kita tidak boleh merendahkannya karena kesedihannya, tetapi berbagilah perasaan dengannya dan katakan kepadanya “jangan sedih lagi ya nak..ada ayah dan ibu yang siap mendengarkan, kami tahu itu membuatmu sedih..ceritalah kepada ayah dan ibu..”

Seorang ayah atau ibu yang sangat dekat dengan anaknya akan mudah mengenali ketika ada perubahan pada diri anaknya, meskipun perubahan itu tak terucapkan. Begitu pula anak akan mudah menangkap manakala ada yang berubah pada ayahnya, semisal ayahnya pagi ini banyak diam, oh… berarti ayahnya sedang bersedih.

Jika hubungan di antara mereka sangat dekat, bapaknya terlihat sibuk sudah sangat besar maknanya bagi anak. Tetapi kalau hubungan mereka datar-datar saja, apalagi renggang, maka kepekaan pun tak ada. Bahkan tidak jarang mereka enggan berbicara dengan salah satu atau kedua orang tua. Mereka bisa bercerita panjang lebar dengan teman, atau kerabat yang datang, tetapi enggan berbicara dengan orang tua maupun saudaranya.Ini semua akan membuat hubunganmu dan anak semakin kuat, dimana anak berusaha sejak dini untuk menyampaikan masalahnya kepadamu, dan percaya pada solusi darimu, bahkan sekalipun solusi itu lemah.

Jadilah pendengar yang baik agar orang lain mau mendengarkan kita. Bagaimana orang lain akan mendegarkan nasehat kita sedangkan kita enggan bahkan cenderung menyepelekan, bermain-main saat orang lain berbicara. Pasangan suami dan istri harus banyak-banyak mendegarkan suka duka dari pasangannya masing-masing. Orang tua dan pendidik pun juga harus banyak mendengarkan cerita dari anaknya, jangan hanya mau didengar tapi tak mau mendengar. Inilah salah satu kunci kerharmonisan rumah tangga dan salah satu kunci keberhasilan pendidikan anak.

Menanamkan kebiasaan baik dan adab mulia kepada anak-anak sedini mungkin sangat penting bagi mereka. Mereka akan benar-benar hafal dan terbiasa dengan kebaikan tersebut. Sehingga setelah dewasa kebaikan itu akan tersimpan dengan kokoh di dalam hati mereka.

Wa Allahu A’lam Bisshawab