Keteladanan yang Mahal

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

لا تكن فقيهاً كالقاضي، بل كن فقيهاً مربيا.

“Jangan menjadi seorang yang berilmu seperti seorang hakim, tetapi jadilah seorang yang berilmu yang bisa mendidik.”

[Asy-Syarhul Mumti’, jilid 9 hlm. 19]

Satu pertanyaan yang melintas yang seringkali menjadi bahan pikiran setiap keluarga muslim khususnya para ayah adalah bagaimana menjadi seorang ayah yang menginspirasi dan menjadi teladan bagi anggota keluargaa. Banyak para ayah hari ini yang lalai bahkan abai dalam memberikan pendidikan terbaik baik keluarganya. pendidikan yang menghadirkan ketaatan, ketakwaan dan rasa takut pada Allah. Pendidikan yang dibangun di atas keimanan.

Karena faktor kesibukan dan kurangnya kesadaran, kini banyak orang tua Muslim, khususnya para ayah, yang kurang mempedulikan pendidikan agama anak-anaknya. Padahal jelas, mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua, khususnya ayah, karena ayah adalah pemimpin dalam keluarga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersabda,

Setiap kalian adalah pemimpin. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dia pimpin. Kepala negara adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Suami adalah pemimpin dan akan dimintaipertanggungjawaban atas keluarganya. Istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya dan akan di mintai pertanggungjawaban atas rumah tangga tersebut… ” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pendidikan anak jelas menjadi salah satu tanggung jawab besar orangtua. Hitam-putihnya anak bergantung sepenuhnya kepada kedua orangtuanya, bukan guru atau sekolah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Setiap anak lahir dalam keadaan suci. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Menjadi ayah teladan…

Jum’at dini hari. Seperti biasa, sebelum masyarakat datang berkunjung, Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan semua anak-anaknya. Dari keempat istrinya, Umar memiliki tujuh belas anak, diantara mereka adalah; Ishaq, Ya’qub, Musa, Abdullah, Bakar, Ummu Amar, Ibrahim, Abdul Malik, Walid, Ashim, Abdullah, Abdul Aziz, Yazid, Zayyan, Aminah dan Ummu Abdullah.

Setelah semua berkumpul, maka saatnya Umar memulai tadarrus al-Qur’an. Dimulai dari anak yang paling tua, kemudian dilanjutkan adik-adiknya. Begitulah. Semua membaca al-Qur’an bergantian. Satu persatu. Sedangkan Umar menyimak bacaan al-Qur’an anak-anaknya dengan sungguh-sungguh dan penuh ta’dhim.

Inilah ayah yang sekaligus guru bagi anak-anaknya. Guru al-Qur’an. Meskipun Umar telah memilihkan guru-guru hebat bagi buah hatinya, namun dirinya sendiri merasa perlu terjun langsung dalam mewarnai keilmuan mereka. Sekalipun agenda reformasi dan kiprahnya dalam pemerintahan sangat banyak, tapi selalu ada waktu yang sangat berkualitas dengan keluarganya. Kebersamaan dalam naungan al-Qur’an.

Menciptakan iklim al-Qur’an dalam lingkungan keluarga, itu yang menjadi point penting dalam membangun kebersamaan keluarga. Ketika ternyata sekedar ‘menitipkan’ anak di lembaga-lembaga pendidikan tertentu tidaklah cukup untuk membangkitkan daya dan memupuk kecenderungan anak kepada al-Qur’annya, ketika iklim di rumah tidak Qur’ani.

Nuansa al-Qur’an harus tercipta dalam lingkungan keluarga terlebih dahulu, dan Umar telah melakukan itu. Sehingga menjadi sangat perlu kiranya setiap keluarga muslim mulai merutinkan halaqah al-Qur’an. Disitu berkumpul antara orang tua dan anak-anak. Bergantian membaca al-Qur’an. Mengkaji pelajaran dari setiap ayat-ayatnya. Dan yang menjadi guru adalah ayah.

Menarik pasti. Sangat istimewa. Lebih berkesan dari halaqah al-Qur’an yang diikuti oleh para anak di sekolah mereka. Karena disitu ayahnya adalah gurunya. Ini adalah satu program besar peradaban yang perlu diinstal di setiap rumah. Harus segera dimulai walaupun di awal terasa canggung dan bingung.

Abdullah bin Umar berpesan kepada kita, “Kamu harus bersama al-Qur’an, pelajari al-Qur’an itu dan ajari anak-anakmu. Karena sesungguhnya kamu kelak akan ditanya tentang al-Qur’anmu dan dengannya kamu akan mendapat pahala, dan cukuplah al-Qur’an sebagai pemberi nasehat bagi orang yang berakal.”

Menjadi guru bagi para buah hati. Beginilah ayah hebat mencetak generasi unggulan.

Begitulah seharusnya menjadi seorang ayah, bukan hanya sibuk dalam mencari nafkah saja tapi juga harus memiliki bagian penting dalam menghadirkan keluarga Qur’ani. Tidak cukup seorang ayah memasrahkan penddidikannya pada lembaga pendidikan saja, sang ayah focus dalam memenuhi kebutuhan pendidikannya. Guru terbaik anak adalah kedua orang tuanya, yang ia sangat paham karakter dari anak, namun masalahnya seringkali kita dapati justru orang tualah yang tidak sabar dalam mendidik anaknya.

Idealnya orang yang pertama kali mengajarkan huruf-huruf hijaiyah adalah orang tuanya, yang mengajarkan surat al-fatihah dengan baik dan benar adalah orang tuanya khususnya para ayah, bukan mengandalkan pada lembaga pendidikan.

Ayah adalah guru terbaik. Maka hendaklah para ayah mengintrospeksi dirinya apakah sudah layak menjadi guru terbaik bagi anak-anaknya

Para ayah renungkanglah..

Disebutkan oleh Al Qadhi Iyadh di dalam kitab beliau Tartiibul Madaarik bahwa Al Imam Abu Ishaq Al Jibyaani –salah seorang ulama Maalikiyyah- bahwa dikhabarkan kepada beliau tentang kisah seorang guru yang baik.

Beliau bertutur…

وبلغنا عن معلم عفيف، رئي وهو يدعو حول الكعبة ويقول: اللهم أيما غلام علمته، فاجعله في عبادك الصالحين، فبلغني أنه خرج على يديه نحواً من تسعين عالم وصالح…

“Sampai kepadaku khabar tentang seorang pengajar yang mulia. Dia pernah terlihat sedang bermunajat di sekitar Ka’bah dengan mengucapkan,

اللهم أيما غلام علمته، فاجعله في عبادك الصالحين

“Ya Allah, jadikanlah setiap anak yang pernah aku ajari sebagai hamba-Mu yang shalih.”

Maka sampailah khabar kepadaku bahwa lahir dari didikannya sekitar sembilan puluh ulama dan orang-orang shalih.”

[Tartiibul Madaarik, 6/246.]

Para ayah..Tidak ada yang salah dan tidak akan pernah merugi waktu-waktu yang engkau luangkan bersama dengan anak-anakmu. Waktu yang engkau habiskan untuk mengajarkan mereka al-Qur’an, mengajarkan tauhid dan fikih-fikih ibadah sederhana. Boleh jadi lelahmu itu menjadi akhir yang indah yaitu dengan Allah hadirkan padamau anak-anak yang shalih, Qrrata a’yun, hafidz al-Qur’an, menjadi syafa’at bagi orang tuanya kelak, dan tentunya menjadi kebanggaan keluarga, bangsa dan agama.

Wa Allahu A’lam Bisshawab

Referensi:

parentingnabawiyyah.com