Empat Kesalahan Mendidik Anak

Anak itu amanah dan akan dimintai pertanggung jawabanya kelak dengan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Memilihkan pendidikan yang baik bagi anak merupakan bagian dari amanah yang Allah bebankan pada kedua orang tua.

Diantara salah satu perkataan Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam Twitter beliau:

“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Allah Ta’ala, dan ketahuilah bahwa Allah membebankan kepada kalian sebuah amanah berupa harta dan keturunan Keduanya adalah beban yang sangat berat. Akan tetapi, siapa saja yang diberi taufiq dan dibantu oleh Allah, hal itu akan ringan baginya. Dia akan menunaikan haknya dan akan selamat dari pertanggungjawabannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini memerlukan kesungguhan, memerlukan perhatian, serta niat yang baik. Mereka, anak-anak, adalah amanah yang dikalungkan di leher-leher para orang tua mereka semenjak mereka lahir hingga mencapai usia kematangan dan kedewasaan dalam berfikir.”

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Mayoritas anak menjadi rusak dengan sebab yang BERSUMBER dari orang tua, dan TIDAK ADANYA PERHATIAN mereka terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Orang tua telah menyia-nyiakan anak selagi mereka masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia. Ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya, si anak menjawab, ‘Wahai ayah, engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia. Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut’.” [Tuhfatul Maudud bi Ahkam al-Maulud hlm. 337]

Allah ta’ala berfirman :

قال – سبحانه وتعالى -: إن اللَّهَ يأمركم أن تؤدوا والأمانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (an-Nisa’ 58)

قال تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ [الأنفال: 27]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang di percayakan kepada kalian, sedangkan kalian dalam keadaan mengetahui.” ( al-Anfal 27)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [التحريم: 6.]

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang di perintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang di perintahkan” (at-Tahrim 6)

وقال رسول الله صلي الله عليه وسلم : ما من عبد يسترعيه الله رعية يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته إلا حرم الله عليه الجنة

Tidaklah ada dari seorang hamba yang Allah memberikan kepemimpinan, lalu ia mati dalam keadaan ia tidak amanah terhadap kepemimpinannya melainkan Allah haramkan atasnya surga.”

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan, “Betapa banyak orang tua yang justru MENCELAKAKAN anaknya—belahan hatinya—di dunia dan di akhirat (!!) karena TIDAK MEMBERI PERHATIAN dan TIDAK MEMBERIKAN PENDIDIKAN ADAB KEPADA ANAKNYA. Orang tua justru : membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya. Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal sejatinya dia telah menghinakannya. Bahkan, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian. Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya. Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat. Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa KEBANYAKANNYA BERSUMBER DARI ORANG TUA.” [Tuhfatul Maudud hlm. 351]

Begitu pentingnya memilihkan pendidikan yang baik bagi anak-anak agar orang tua tak menyalahkan anak-anak saat mereka tak kunjung baik. Dalam mendidik pun ada seninya sebagaimana yang Nabi ajarkan kepada para sahabatnya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik guru yang patut diteladani. Para orang tua juga musti waspada beberapa kesalahan-kesalahan dalam pendidikan anak, diantara kesalahan-kesalahan tersebut:

Pertama: Kekejaman dan kekerasan

Para ahli pendidikan dan psikolog memandang cara ini sebagai cara yang paling berbahaya bagi anak, apabila terlalu sering dilakukan. Memang ketegasan dibutuhkan dalam momen-momen tertentu, namun kekerasan justru hanya akan menambah ruwet masalah dan memuncak. Tatkala sang pendidik emosi hingga kehilangan kontrol, melupakan kesabaran dan kelapangan hati, dia akan menyerang si anak dengan cercaan dan mencaci-makinya dengan kata-kata yang amat jelek dan kasar. Urusannya pun akan lebih jelek bila kekejaman dan kekerasan ini ditambah dengan pukulan.

Kedua: Memanjakan dan sikap suka mengizinkan yang berlebihan

Cara model seperti ini tidak kalah bahayanya model pendidikan dengan kekejaman dan kekerasan. Sikap terlalu melindungi dan memanjakan hanya akan membuat si anak merasa tidak mampu menjalin hubungan sosial yang sukses dengan orang lain, tidak mampu mengemban tanggung jawab dan menghadapi kenyataan hidup. Dia tak pernah melalui pengalaman yang cukup memberikan pelajaran tentang cara menghadapi berbagai peristiwa yang menghadangnya.

Ketiga: Tidak konsisiten dalam bertindak

Anak perlu mengerti apa yang diharapkan dari dirinya. Oleh karena itu, orang tua harus memberikan aturan-aturan yang mudah dimengerti dan penjelasan yang logis serta menerangkannya kepada si anak. Ketika si anak bisa menerima, dia akan mudah menaatinya. Aturan itu harus selalu dievaluasi dan didiskusikan dengan anak setiap tenggang waktu tertentu.

Kita tidak boleh menggampangkan penerapan suatu aturan pada suatu hari, lalu hari berikutnya kita tekankan kembali pentingnya mengikuti aturan tersebut. Sikap seperti ini kadang menjadikan anak bingung, di samping juga membuatnya tidak mampu menentukan perilaku mana yang diterima dan yang ditolak.

Keempat: Tidak adil pada sesama saudara

Orang tua kadang tidak adil memperlakukan anak dengan mengutamakan seorang anak daripada anak-anak yang lain. Mungkin karena kecerdasan, ketampanan, perangainya yang bagus, atau jenis kelamin. Sikap seperti ini akan memicu kecemburuan saudaranya yang lain. Kecemburuan ini pun akan memunculkan perilaku yang salah serta permusuhan terhadap saudara yang diistimewakan, sebagai bentuk pelampiasan dendam terhadap orang tua.

Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dengan sabdanya:

اتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا فِي أَوْلاَدِكُمْ

Bertakwalah kalian kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anak kalian!” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Wa Allahu A’lam Bisshawab

Sumber:

[Dari Majalah “Al Usrah” edisi ke 101]