Meneladani Sosok AYAH dari “BUYA HAMKA” (resensi buku “AYAH” karya Irfan Hamka)

Manusia cenderung mengikuti orang-orang hebat disekitarnya. Namun, tokoh hebat itu umumnya hanya bisa diikuti pada sisi-sisi tertentu. Hanya sedikit orang besar yang kebesarannya meliputi banyak sudut. Bagi kita –yang  muslim- mencari orang yang patut diteladani hidupnya adalah sosok paripurna yang menggabungkan akan kebesaran sentuhan dunianya dan juga kebesaran amal di akhiratnya. Dan tidak banyak sosok seperti itu.

Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal Buya Hamka adalah satu satunya. Beliau memiliki banyak hal yang bisa diteladani untuk generasi berikutnya. Beliau adalah seorang ulama besar dengan karya besar Tafsir Al Azharnya. Beliau seorang tokoh pejuang terdepan yang memimpin perjuangan mengusir penjajah. Beliau juga seorang pemimpin yang bisa menyatukan dan dimakmumi orang disekitarnya. Beliaupun sosok ayah yang sangat perhatian dengan perkembangan pendidikan anak-anaknya.

Kisah shahih tentang Buya Hamka bisa kita baca pada buku “AYAH”. Sejarah hidup beliau menjadi lebih terjamin kebenarannya disebabkan buku itu ditulis oleh orang terdekat dengannya, anaknya Irfan Hamka. Keotentikan tutur  menjadi penting, karena hari ini begitu banyak cerita kosong dengan tokoh fiktif disuguhi yang bisa merusak mental dan pikiran. Bangsa ini perlu terus dikenalkan dan didekatkan dengan  sosok-sosok nyata nan hebat sebagai teladan dan sumber inspirasinya.

Buku “AYAH” yang diterbitkan REPUBLIKA tidak mengisahkan tentang sosok Buya sebagai seorang ulama dengan berbagai hasil karyanya yang luar biasa. Buku ini –kecuali sepintas saja- tidak menceritakan kisah heroik perjuangan beliau di medan tempur melawan penjajahan. Juga, dibuku ini  tidak bertutur kepiawaian beliau sebagai negarawan sejati nan bijkasana. Buku ini memotret kehidupan diri beliau lebih pada sosok pribadi dan sosok seorang ayah bagi keluarganya. Pendidik bagi anak-anaknya.

Irfan Hamka, penulis buku ini dan juga sebagai anak, menceritakan bagaimana Buya sang ayah mengajarinya baca tulis huruf Arab dan Quran. Sebab Buya mengerti betul tanggung jawab pendidikan ada pada orangtuanya. Dengan ilmu bela dirinya, di dalam buku ini pun dikisahkan sosok teladan sang Ayah yang mengajari anak-anaknya ilmu silat. Dari berbagai kisah BUYA di tengah keluarganya memberikan pelajaran berharga buat pembaca bagaimana seharusnya kita sebagai sosok AYAH ditengah keluarganya.

Pada buku ini kita mendapatkan contoh yang sangat baik dari tokoh HAMKA bagaimana ketenangan beliau menghadapi  sejumlah peristiwa ujian menyesakkan dada dan perjalanan horor yang mendegupkan jantung , ketika perjalanannya pulang dari tanah suci. Inipun jadi pelajaran berharga buat kita bahwa sumber ketenangan beliau saat mampu melewati suasana amat sangat mencekam itu dikarenakan kokohnya akidah dan kuatnya keyakinan beliau kepada Allah swt.

Dan buat generasi hari ini, buku ini mengisahkan bahwa beliau seorang pembelajar sejati yang sangat mencintai ilmu. Beliau bersusah-susah melahap banyak buku bahkan diusia mudanya, 13-14 tahun, beliau membaca karya dari pemikir muslim seperti Syekh Al Afgahni dan Syekh Muhammad Abduh.

Dan seakan beliau paham tentang budaya literasi para salaful ummah, bahwa ulama ulama besar terdahulu selalu lebih abadi dari usianya. Beliau pun mengabadikan pemikirannya dan dituangkan dalam banyak karya bukunya. Dan karya terhebat dan legendarisnya adalah TAFSIR AL AZHAR yang bisa dinikmati hingga hari ini.

Dan karenanya buku “AYAH” layak untuk dibaca dan menjadi inspirasi besar buat generasi setelahnya. Buya Hamka, Rahimahullah.

 

Rizqul Akbar

(Guru SMA PLUS LIWAUL FURQON BOGOR)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *