Menanam Jagung di Kebun Kita

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.” (HR. Al-Bukhori)

Imam muslim juga meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Rasulullah pernah bersabda :

Tidaklah seorang muslim menanam tanaman kecuali yang dimakan darinya merupakan sedekah, apa yang dicuri darinya merupakan sedekah, apa yang dimakan oleh binatang buas merupakan sedekah, apa yang dimakan oleh burung merupakan sedekah, dan apa yang diambil oleh orang lain juga merupakan sedekah.” dalam lafal lain : “…Merupakan sedekah sampai akhir kiamat”

Dari dua hadits di atas ada beberapa hal yang dapat kita petik :

  1. Rasulullah menganjurkan kita untuk bercocok tanam dan memanfaatkan lahan-lahan pertanian untuk bercocok tanam.

  2. Hasil cocok tanam tersebut merupakan sedekah bagi kita jika ada yang memakannya, sampai hari kiamat.

  3. Pahala akan diterima oleh orang yang menanam maupun pemilik lahan.

Anjuran untuk menanam pohon, bercocok tanam, dan melakukan penghijauan bumi ini berlaku sampai hari kiamat. Selama seseorang masih memiliki nyawa ia masih diperintahkan untuk menanam pohon. Imam Bukhari dan Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda :

JIka kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendakalah ia bergegas menanamnya.”

Juga sejalan dengan hadits Rasulullah :

Tanamlah bibit pohon yang ada di tangan mu sekarang juga, meski besok kiamat. Allah akan tetap memperhitungkan pahalanya.”

Demikian besarnya perhatian Islam terhadap penanaman pohon dan penghijauan dunia.

Bercocok tanam atau bertani adalah salah satu dari dua kekuatan/skill umat Islam yang menopang diawal awal dakwah Nabi Muhammad saw. Orang-orang Anshor Madinah dengan kondisi alamnya memungkinkan mereka membangun kehidupannya dengan cara bertani. Karena itu mereka dikenal sebagai ahli ahli dibidang pertanian. Berbeda dengan orang-orang Mekkah yang tidak memiliki tanah yang bisa ditumbuhi, maka orang orang Mekkah (muhajarin) tidak memiliki kecakapan untuk bertani. Pekerjaan utama mereka adalah berdagang. Inilah dua kekuatan yang dimiliki kaum muslimin saat itu.

Jika orang Madinah yang menanam maka orang-orang Mekahlah yang menjual hasil tanaman itu. Demikianlah Anshar dan Muhajirin membangun peradaban ini, sampai kemudian ditangan merekalah, para petani dan para pedagang, Islam mencapai kebesarannya.

Inilah kemudian yang seharusnya menjadi inspirasi besar umat Islam hari ini, jika ingin mengembalikan izzah umat ini, maka mulailah menguasai pekonomiaan dengan cara bertani dan berdagang. 

Karena itulah siswa-siswa SMA Plus Liwaul Furqon dididik bagaimana cara mengelola alam yaitu dengan belajar bercocok tanam.  Melalui kegiatan menanam mereka diajarkan bagaimana cara mereka membangun/belajar mencapai visi masa depannya (cita-citanya). Ketika siswa menanam, sebenarnya mereka sedang belajar perencanaan yang baik dari mulai mencari bibit yang baik, menjaga dari semua yang bisa merusaknya, sampai belajar merawat sampai benih ini tumbuh besar dan menghasilkan. Ini perlu kedispilinan dan kesabaran, dan itulah pelajaran buat mereka.

Rizqul Akbar

(Guru SMA Plus Liwaul Furqon Bogor) 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *